Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar dari Tukang Bangunan yang Berjiwa Seni


Oleh: Teuku Hendri Saifullah


SDIT Muhammadiyah Manggeng dalam beberapa bulan terakhir ini sedang membangun ruang kelas baru (RKB) yang berlokasi disamping ruang kelas yang sedang digunakan sekarang yaitu di komplek mesjid Attaqwa Muhammadiyah Manggeng kabupaten Aceh Barat Daya.

Pembangunan RKB ini dananya berasal dari bantuan masyarakat, donatur dan para dermawan. Bangunan ini bukanlah berbentuk kelas permanen tetapi semi permanen artinya bersifat sementara karena hanya berdindingkan triplek dan batako. Mengingat lokasi ini adalah lokasi sementara karena lokasi SDIT yang sebenarnya ada di lokasi lain yang dalam waktu dekat ini juga akan dibangun oleh pihak pemerintah kabupaten abdya. InsyaAllah.

Pada tulisan ini penulis bukannlah ingin membahas tentang bangunan RKB, tetapi ada hal yang lain yang sangat menarik bagi penulis ketika penulis meninjau atau melihat pekerjaan pembangunan yang dilakukan oleh tukang bangunan.

Hal ini penulis lakukan karena kebetulan penulis adalah ketua pembangunan SDIT Muhammadiyah Manggeng. Yang menariknya adalah diantara 4 orang tukang bangunan tersebut ada satu tukang yang sudah sangat penulis kenal namanya adalah bang Yasir Arafat. Nama yang sangat familiar karena nama tersebut adalah presiden palestina yang dalam hidupnya terus memperjuangkan kemerdekaaan negara palestina.

Baik. Kita fokus kembali ke "bang apat," demikian panggilan akrab beliau. Bang apat ini ketika bekerja sangatlah semangat dan ulet disamping itu beliau sangat peduli dan juga perhatian terhadap siswa SDIT yang sedang belajar di kelas yang berada tepat samping ruang RKB yang sedang dibangun. Terkadang juga siswa ada yang keluar masuk kelas dan mengganggu bang apat yang sedang bekerja.

Tetapi bang apat ini tidaklah cepat marah. Malahan membuat sebuah ide yang menurut penulis sangat unik dan sangat menarik. Jiwa seni yang ada pada diri bang apat ini ditampilkan dengan menulis nama siswa yang sering keluar masuk kelas dan mengganggu kerja tukang. Nama-nama tersebut ditulis di atas potongan triplek kecil. Tulisan tersebut menurut penulis sangat rapi dan indah kemudian ditempelkan di dinding kelas mereka.

Tulisan ini cukup membuat siswa yang namanya tercantum menjadi malu dan merasa bersalah sehingga tidak mau lagi keluar masuk kelas.

Tetapi yang mengherankan malahan ada siswa perempuan yang juga ingin namanya ditulis. Karena namanya kawannya ditulis dengan sangat rapi dan indah. Padahal nama tadi bukanlah sebuah penghargaan tapi sebuah sindirian. Permintaaan anak-anak tadi disambut dengan senyuman oleh bang apat.

Disela waktu istirahat, bang apat juga sempat melukis kata- kata mutiara yang ng juga ditulis diatas potongan triplek bekas dengan spidol dan alat tulis seadanya. Diantara tulisan yang beliau tulis adalah
"Rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh" selain itu beliau sekarang juga sedang mempersiapkan tulisan nama sekolah kami yaitu "SDIT Muhammadiyah Manggeng"

Penulis dapat mengambil kesimpulan yang bahwa apapun bakat yang kita miliki, jika kita mau maka akan menjadi salah satu cara untuk bisa menyampaikan pesan kebaikan kepada orang lain. Salah satu contohnya melalui bakat seni yang dimiliki oleh bang apat sehingga anak yang sebelumnya susah diatur bisa berubah hanya dengan tulisan yang indah dan kata-kata nasehat yang mereka baca.

Semoga mengisnpirasi kita semua agar terus melakukan kebaikan dimanapun dan kapanpun kita berada.

Info bantuan RKB
Panitia pembangunan SDIT masih menerima bantuan yang dapat dikirim ke rekening Bank Aceh atas nama SDIT MUHAMMADIYAH MANGGENG nomor rekening 093-01-11-000008-1