Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masa Jelang Akhir Malam

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 2 Safar 1443


Masa Jelang Akhir Malam
Saudaraku, mengawali ikhtiar memanfaatkan masa atau kesempatan yang masih disediakan oleh Allah - sebagaimana pesan muhasabah yang baru lalu - maka muhasabah kali ini akan mengingatkan diri sendiri dan semoga juga pembaca yang budiman tentang betapa dahsyatnya keberkahan di sepertiga akhir setiap malam. Inilah yang melatari tema muhasabah hari ini sehingga diracik di bawah judul masa jelang akhir malam. Dan tentu, kita dituntun  "menghidupkannya" untuk ta'abud pada Allah jua. Inilah agenda dan aktivitas awal sebagai pembuka keberkahan unlimited yang disediakan oleh Allah bagi hamba-hambaNya yang istikamah merengkuhnya.

Masa jelang akhir malam itu kapan ya? Dalam hal ini terdapat beberapa riwayat bahwa saat jelang akhir malam itu kira-kira menempati sepertiga malam terakhir hingga datangnya waktu subuh (untuk waktu di Banda Aceh - Blang Bintang Aceh Besar kira-kira pukul 03.00 wib sampai terdengarnya kumandang adzan subuh (sekarang 05.15 wib). Jadi pukul 03.00 - 05.15 wib. Nah dalam tuntunan Islam, saat-saat jelang akhir malam hingga subuh ini menjadi sangat mulia dan sangat mustajabah doa karena merupakan saat-saat yang sangat kondusif untuk khusyuk dalam beribadah ta'abud pada Allah ta'ala.

Salah seorang sahabat namanya Masruq ra. mengatakan, bahwa ia pernah menanyakan kepada Aisyah ra istri Nabi tentang amal ibadah Rasulullah saw. Aisyah menerangkan “Beliau menyukai amal yang dilakukan terus menerus, (ajeg, istikamah, konsisten)” Kapan Beliau salat malam? Tanya Masruq. “Kalau ayam berkokok, beliau bangun lalu shalat” jawab Aisyah (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa waktu mustajab doa dan shalat malam adalah pada saat-saat jelang akhir malam hingga subuh (pukul 03.00 - 05.15 wib). Kira-kira waktu ini sesuai hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda yang artinya Allah swt setiap malam turun ke langit dunia yaitu kira-kira sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Siapa saja yang memohon kepada-Ku, Aku perkenankan. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni” (HR Muslim)

Riwayat lain juga menyebutkan bahwa shalat malam dilaksanakan oleh Nabi pada jelang akhir malam atau pada sepertiga malam terakhir. Amr bin Utbah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Saat dimana Allah paling dekat dengan hamba-Nya adalah pada tengah malam terakhir, jika kamu sanggup untuk bangun guna mengingat Allah, hendaklah engkau lakukan” (HR. Tirmidzi).

Tentu, kita dituntun agar menjemput keberkahan yang tersedia dengan segera bangun dan berta'abud pada Allah. Jangan sampai kita sebagai umat Islam masih terbuai dalam tidur yang pulas, mimp-mimpi indah di bantal kasur yang melenakan.. Maka tuntunannya "segera bangun dan segega jemput karuniaNya".  Dan inilah pembuka keberkahan untuk menggapai keridhaan Allah saja. Dan inilah kearifan dan kestikamahan hamba untuk menghidupkan masa-masa jelang akhir malam hingga subuh dengan ibadah; menyambut terbitnya fajar peradaban, fajar kesejahteraan, dan fajar kebahagiaan. Coba kita renungkan! Adakah peradaban, kesejahteraan, dan kebahagiaan yang dibangun hanya dengan tidur, mimpi-mimpi indah di kasur-kasur yang empuk?  Tidak!. (titik)

Dan hebatnya tentang masa jelang akhir malam, Allah bersumpah dengannya. Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap maupun yang ganjil, dan malam apabila berlalu; dalam hal yang demikian itu terdapat penegasan bagi orang-orang yang mengerti. (Qs. Al-Fajr 1-5)

Nah kita harus terus bersyukur bila saban hari bisa istikamah bangun tidur di masa-masa jelang akhir malam, semoga dipertahankan sampai suatu saat kelak ketika Allah tak lagi membangunkan kita dari tidur dunia sehingga tidur selamanya di sisiNya. Karena, siapa sih di antara kita yang saat beranjak mau tidur, lalu merasa dapat memastikan bahwa esok hari akan bangun atau dibangunkan kembali? Tidak!, Tidak seorangpun.

Karena tidak dapat memastikan bisa bangun lagi atau tetap tidur buat selamanya, maka Islam menuntun kita dengan membaca doa saat akan tidur, bismikallahumma ahya wa amuut, dengan asmamu ya Allah, Zat yang menghidupkan dan mewafatkan (hamba). Begitulah tidur kita semoga dalam "pelukan ridha Allah", dan ketika masih dibangunkan di dini hari, kita juga dituntun berdoa alhamdulillahilladzi ahyana bakda amata wa ilaihi nusur, segala puji bagi Allah yang masih menghidupkan kita setelah sebelumnya mati untuk beberapa saat, dan kita yakin kepada Allah jualah tempat kembali.

Rasa syukur yang telah kita lafalkan sesaat bangun tadi mesti berlanjut dan menghajadkan pembuktian selama mengarungi hari-harinya. Suasana dini hingga subuh yang datang saban hari selalu menyediakan ragam karunia Ilahi. Di samping secara alamiyah seperti udara yang masih bersih dari polusi, keheningan suasananya dan kesejukan udaranya, secara insaniyah juga menawarkan kebugaran dan pikiran yang bergairah. 

Dan ternyata sangat banyak aktivitas yang bisa dilakukan, sejak bangun di dini hari hingga pagi mulai dari berdoa melalui shalat-shalat sunat dan yang disyariatkan (shalat tahajud, shalat fajar, shalat qabla subuh, shalat subuh, dzikir dan bermunajat memohon apa saja pada Allah), lalu tilawah Qur'an, berolahraga pagi sambil mensyukuri, melakukan sanitasi rumah dan lingkungan sekitarnya sampai berangkat ke tempat mencari nafkah. Semua aktivitas yang mecerdaskan ini berlangsung sejuk menyejukkan sebagaimana embun dini hari yang menyemangati.

Nah, akankah kita meliwatkan begitu saja? akankah kita terjebak pada rutinitas yang kosong dari kehidupan yang bermakna? Bangun tidur, lalu bekerja di siang hari, pulang pada petang hari dan beristirahat di malamnya. Kemarin, hari ini, besuk dan seterusnya, rutinitas seperti ini terus berulang dan berulang, sehingga memenuhi seluruh kehidupan sampai tak disadarinya bahkan pada suatu saat nanti janji kembali pada Allah sudah dekat.

Padahal, rutinitas kehidupan sering kali membuat banyak orang terlena, apalagi dengan ragam kesibukan dan masalah yang muncul silih berganti dan tanpa henti. Eksistensi diri sering tenggelam dalam gelombang kehidupan sesuai arah angin berhembus. Yakinlah, hanya orang-orang yang berhati-hati dan waspada saja (baca orang takwa) yang tidak terlena sehingga kehidupan menjadi bermakna. Hatinya selalu terjaga, meski dalam tidur sekalipun. Allah selalu hadir dalam seluruh aktivitas hidupnya. 

Di saat bangun tidur di dini hari mengawalinya dengan memanjadkan doa syukur juga dalam shalat-shalatnya, bekerja di siang harinya bernilai ibadah, menghadapi dan menyelesaikan masalah hanya untuk menggapai keridhaanNya, istirahatnya untuk memulihkan tenaga dan memperbaharui semangat ibadahnya. Begitu seterusnya seluruh aktivitasnya punya makna.

Sekali lagi, kita mestinya dapat meraih keberkahan saat-saat jelang akhir malam hingga subuh saban hari. Apalagi bila kita cermati ungkapan-ungkapan yang dikaitkan dengan dini hingga pagi hari, seperti embun pagi, masih pagi, matahari pagi, pesona pagi, pagi berseri dan lainnya, maka semuanya untuk membangkitkan harapan, menawarkan kesejukan, memberikan motivasi, dan melahirkan sejumlah besar peluang untuk meraih kebahagiaan. 

Kini etikanya: Mari bangun; mari shalat: mari bermunajat: mari meraih kemenangan: mari bersimpuh menjemput karuriaNya: mari merasakan kebahagiaan. 

Aamiin ya Rabb