Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Cinta Bersedekah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 18 Rabiul Awal 1444

Cinta Bersedekah
Saudaraku, di antara sunah Nabi yang semestinya dapat dikukuhkan secara harian adalah bersedekah. Ketika sudah terbiasa niscaya menjadi cinta atau gemar bersedekah. Ya bersedekah, yang dengannya dapat menjemput sekaligus menjumput keberkahan yang disediakan Allah atasnya.  

Secara internal, dengan bersedekah bukankah justru akan berkah melipatgandakan kebaikannya dan berpulang kepada yang merengkuhnya, sedangkan secara eksternal bagi penerima sedekah akan terbantu dalam memenuhi kebutuhannya. Apatah lagi, perasaan peduli dan cinta kasih kepada sesama yang sudah terpatri secara instinktif di hati orang-orang Islam mustinya dapat mewujud dalam aksi nyata. 

Allah berfirman yang artinya, perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Qs. Al-Baqarah 261-262)

Bersedekah menjadi penyeimbang kehidupan. Betapa tidak!, kita sama-sama ciptaan Allah ta'ala, sama-sama bersekolah bahkan pada sekolah yang sama, berikhtiar malah mungkin lebih keras, berdoa juga telah dilakukannya, namun ternyata tentang garisan tangan dan beban hidup tidaklah sama. Realitas dalam hidup ini, ternyata ada yang kaya dan ada yang papa; keduanya seperti sekeping mata uang yang terus eksis di kedua sisinya. 

Sikaya bisa bergelimang dalam kemewahan dengan kelebihan (hartanya, akses, ilmu), sementara sipapa musti menanggung beban amat berat kemiskinan (harta, akses dan ilmunya) dalam keseharian hidupnya. Bila orang-orang kaya hanya sekali-kali belajar lapar karena berpuasa, namun orang-orang fakir miskin papa, benar-benar lapar dalam kesehariannya.

Meskipun, tentu, bersedekah meliputi makna yang sangat luas, baik materi maupun immateri, namun secara stereotipe cenderung dipahami sebagai pemberian harta kepada orang-orang fakir, orang yang membutuhkan, ataupun pihak-pihak lain yang berhak menerima sedekah, tanpa disertai imbalan. 

Ya, padahal bersedekah bisa saja dalam bentuk pangan, sandang, papan, dan uang, tetapi juga sapaan ramah, senyuman ikhlas, sikap hormat, perhatian penuh, apresiasi tulus, pengajaran dan pendidikan, keamanan, kebahagiaan dan pertolongan apapun kepada sesama manusia. Semua praktik baik ini, modalnya adalah hati yang terbuka tulus dan ikhlas. Oleh karena itu, sejatinya tidak ada alasan kecuali sesiapa saja bisa bersedekah, tinggal bagaimana sikap mentalnya atau hatinya saja yang perlu diasah dan dibuka agar terbiasa dan ringan dalam memberi sedekah.

Betapa bahagianya bila bisa turut berkontribusi mengurai akar kemiskinan yang dialami oleh sesama anak bangsa dan mengentaskannya. Betapa trenyuhnya hati bila mampu menyediakan beasiswa bagi putra putri bangsa ini sehingga mereka bisa melanjutkan studinya. Tetapi juga, betapa mesranya saat bertemu sesama saudara, kita berebut duluan untuk menyapa dan memberi senyuman ikhlas. Betapa indahnya suami isteri saling berfastabiqul khairat memberi kebahagiaan satu sama lainnya, sehingga bisa saling melengkapi, saling menutupi, saling berbagi bahagia. Semoga kita dianugrahi hati yang senantiasa terbuka. Aamiim ya Mujib al-Sailin